Sabtu, 19 Desember 2009

Makna Dan Pengertian Tauhid

1. PENGERTIAN TAUHID

a. Pendahuluan


Sesungguhnya pada zaman sekarang ini banyak terlihat fenomena-fenomena kesyirikan yang ditemui dikalangan kaum muslimin, seperti kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo dimana untuk menutup lubang Lumpur diadakan suatu ritual yang dipimpin oleh seorang “Kyai” dimana dalam ritual itu disembelihlah kambing dan kepalanya dilemparkan kedalam lubang ataupun fenomena yang terlihat pada kuburan yang di anggap wali dimana pada saat-saat tertentu dipenuhi oleh penziarah dengan berbagai maksud dari hanya berdo’a saja sampai menjadikan kuburan tersebut sebagai perantara kepada ALLAH agar hajatnya terpenuhi. Untuk itulah penulis berusaha dengan ijin ALLAH menerangkan makna dari Tauhid yang merupakan lawan kata dari syirik serta klasifikasinya.

b. Definisi Tauhid


Pemahaman tentang tauhid didahului oleh pemahaman tentang definisinya baik secara terminology bahasa maupun agama (syar’i). Secara bahasa tauhid adalah mashdar (kata dasar) dari وحّد يوحّد توحيد yang maknanya sesuatu itu satu (esa). Sedangkan secara syar’i tauhid bermakna mengesakan ALLAH dalam ibadah, bersamaan dengan keyakinan keesaanNYA dalam dzat, sifat dan perbuatan-perbuatanNYA.

Pembagian Definisi Tauhid
Tauhid menurut ulama dibagi menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ dan sifat.
1.Tauhid Rububiyah

Artinya kita meyakini keesaan ALLAH dalam hal penciptaan, pemilik, pengatur, pemberi rizqi dan pemelihara alam semesta beserta isinya. Keyakinan seperti ini juga diyakini oleh kaum musyrikin makkah sebagaimana firman ALLAH dalam surah yunus:31.

قُل مَن يَرزُقُكُم مِّنَ السَّمَأِوَالأَرضِ أَمَّن يَملِكُ السَّمعَ وَالأبصاَرَ وَمَن يُحرِجُ الحَيِّ مِنَ

المَيِّتِ وَيُحرِجُ المَيِّتَ مِنَ الحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُالأَمرَفَسَيَقُولُونَ الله فَقُل أَفَلاَ تَتَّقُونَ


Artinya “ Katakanlah : siap yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakh yang mengatur segala urusan ? maka mereka (musyrikin makkah ) menjawab :” ALLAH”, maka katakanlah (hai Muhammad) “ mengapa kamu tidak bertaqwa kepadaNYA.


Ayat yang senada dengan ayat sebelumnya adalah Almu’minun :84-89, Azzumar:38, Az zukhruf:87. Dari ayat-ayat ini jelaslah bahwa kaum musyrikin makkah meyakini tauhid rububiyah, namun mereka tetap diklasifikasikan sebagai kaum musyrikin oleh ALLAH dan RasulNYA. Sehingga dari disini dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak dikatakan beriman dengan hanya meyakini tauhid rububiyah.

2. Tauhid uluhiyah

Artinya kita meyakini bahwa ALLAH lah satu-satunya dzat yang berhaq disembah (diibadahi). Ibadah menurut syeikhul islam Ibnu Taimiyah adalah istilah yang meliputi segala apa yang ALLAH cintai dan ridhai baik berupa ucapan dan amalan-amalan yang lahir maupun yang batin. Tauhid ini merupakan implementasi dari kalimat tauhid لا اله إلا الله . Makna kalimat ini adalah لا معبود بحق إلا الله artinya tidak ada sesembahan yang hak untuk disembah melainkan ALLAH. Kalimat tauhid ini mengandung dua unsur yaitu unsur penolakan segala bentuk sesembahan selain ALLAH yang terdapat pada kalimat لا اله serta menetapkan segala bentuk ibadah ditujukan hanya kepada ALLAH semata tidak ada sekutu bagiNYA yang terdapat pada kalimat إلا الله . Tauhid inilah yang merupakan inti dari pengutusan para rasul seperti yang termaktub dalam firman ALLAH dalam surah Al anbiya’ : 25

وَ مَاأَرسَلنَا مِن قَبلِكَ مِن رَّ سُولٍ إِلاَّ نُوحِي إَلَيهِ أَنَّهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنَا فَعبُدُونِ

Artinya Dan tidaklah kami mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan AKU, maka sembahlah AKU olehmu sekalian.

Dalam hal memahami makna لا اله إلا الله ada sebagian orang memaknainya dengan لا حكم إلا الله (tidak ada hakim tertinggi melainkan ALLAH). Ini adalah makna yang sempit dan kurang tepat dalam memberikan makna yang benar terhadap لا اله إلا الله . Hal ini dikarenakan dakwah Rasullullah ketika pertama kali diutus bukan masalah hakimiyah, namun masalah tauhid ibadah dan menjauhi kesyirikan seperti firman ALLAH dalam surat An Nahl:36.

وَ لَقَد بَعَثنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ عبُدُوا الله وَا جتَنِبُوا لطَا غُوتَ

Sungguh kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat agar mereka (memerintahkan) umatnya menyembah ALLAH dan menjauhi Thaghut.

Imam malik mengatakan Thaghut adalah sesuatu yang disembah selain ALLAH., sedangkan Ibnu Qayim menafsirkan Thaghut adalah setiap yang diperlakukan manusia secara melampaui batas seperti disembah, dipatuhi atau diikuti.
Adapula yang memahami makna kalimat لا اله إلا الله dengan لا خلق إلا الله (tidak ada pencipta (tuhan) selain ALLAH). Ini juga adalah pemahaman yang kurang tepat seperti yang telah diuraikan dalam penjelasan tauhid rububiyah, orang musyrikin Makkah kala itu juga mengimani rububiyahnya ALLAH.


3. Tauhid Asma’ wa sifat

Artinya kita meyakini bahwa tidak ada satupun yang menyerupai ALLAH dalam DzatNYA, nama-namanNYA, sifat-sifatNYA maupun perbuatanNYA. Sebenarnya tauhid ini termasuk dalam tauhid Rububiyah, namun dikarenakan banyaknya pemahaman yang menyimpang mengenai hal ini maka para ulama salaf sepakat untuk meletakkan tauhid asma’ wa sifat sebagi tauhid ketiga. Tauhid Asma’ wa sifat merupakan masalah tauqifiyah artinya dalam menentukan nama dan sifat ALLAH semata-mata tergantung dalil, tidak diperbolehkan menakwil dengan akalnya. Pada prinsipnya akal tidak diberikan hak untuk menetapkan masalah tauhid ini. Inilah yang menyebabkan banyak orang yang tergelincir dalam memahami dan meyakini tauhid ketiga ini karena dia telah memutuskan sesuatu semata-mata karena sesuai dengan akalnya.
Secara umum pengertian tauhid asma’ wa sifat adalah beriman kepada semua nama-nama dan sifat-sifat yang telah ALLAH sifatkan sendiri untuk diriNYA dalam kitabNYA maupun yang telah disifatkan oleh Rasulullah dalam hadist-hadist yang shahih tanpa melakukan:

1. Tahrif berarti merubah lafazh nash yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih dengan cara menambah/mengurangi kata/huruf, atau menambah harakat ataupun menyimpangkan dari makna sebenarnya misalnya istawa (bersemayam) dirubah dengan istaula ( yang menguasai ).

2. Ta’thil berarti meniadakan seluruh atau sebagian sifat yang telah ALLAH tetapkan. Mereka berdalih, apabila ALLAH Maha Melihat berarti DIA mempunyai pandangan juga apabila DIA Maha Mendengar berarti DIA mempunyai pendengaran. Dengan dalih itu mereka meniadakan sifat-sifat ALLAH (yang menurut mereka) menyebabkan ALLAH serupa dengan mahlukNYA.

Perbedaan Tahrif dan Ta’thil yaitu Ta’thil menolak suatu makna yang benar yang telah ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Assunah yang shahih sedangkan Tahrif adalah penafsiran nash-nash alQur’an dan Assunnah yang shahih dengan interpertasi yang bathil.

3. Takyif berarti menanyakan bagaimana hakekat sifat ALLAH itu ataupun menggambarkannya.

4. Tamtsil (Tasybih ) berarti menyerupakan sifat ALLAH dengan sifat mahlukNYA. Misalnya ALLAH Maha Melihat berarti penglihatannya sama dengan yang kita miliki.

Karena ALLAH telah berfirman dalam surah surah Asy Syura:11

11. (dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.


Dan surah Al-A’raf:180

180. hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya, nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

2. MAKNA TAUHID

Kata attauhid adalah bentuk masdar dari wahhada yuwahhidu yang bermakna mengesakan. Sedang kata attauhid

sendiri dapat didefinisikan sebagai al i'tiqadu biwahdaniyyatillahi (keyakinan atas keesaan Allah). Esa dalam arti tidak

tersusun dari beberapa unsur dan tidak ada yang menyerupainya. Allah menjelaskan dengan bahasa yang singkat

dengan firman-Nya (QS 112:1): Qul, huwallahu ahad. (Katakanlah Dia Allah itu Esa). Dan memang hanya Allah-lah yang

patut disebut sebagai Tuhan dan tidak ada Tuhan selain Dia (QS 2: 163).

Imam Ghazali membagi tauhid ke dalam empat kelompok, yakni yang pertama tauhid dalam dzat dengan makna bahwa

Allah itu Esa ditinjau dari segi dzatnya. Allah tidak terdiri dari sesuatu apapun dan tidak ada makhluk yang

menyerupainya. Bahkan kalau ada orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah satu dari yang tiga, maka orang

tersebut dikatakan Allah sebagai orang kafir (QS 5: 73). Dzat Allah tidak diserupai oleh apapun (QS 42: 11). Bahkan

tidak seperti manusia, Dia Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan (QS 112: 3). Dzat Allah tidak dapat

dipersonifikasikan. Tidak ada yang dapat membayangkan dzat-Nya, menghayalkan dan mengggam-barkan bentuk-Nya.

Tidak ada yang mampu memandang-Nya, bahkan memikirkan-Nya sekalipun. Oleh karena itu Rasululah saw berpesan:

Tafakkaru fi khalqillahi wa la tafakkaru fi dzatillahi (Fikirkanlah ciptaan Allah dan jangan fikirkan dzat Allah.) Detektor

mikro elektronik secanggih apapun tidak akan dapat dipergunakan untuk mendeteksi dzat Allah. Namun Allah

menganugerahi IMAN kepada orang Islam yang dapat dipergunakan untuk menangkap dan merasakan kehadiran Allah.

Maka berbahagialah orang yang di dalam hatinya ada iman yang dibangun atas dasar fondasi tauhid yang benar. Yang

ke dua adalah tauhid dalam sifat, dalam arti bahwa sifat-sifat Allah itu tidak ada yang menyerupai apalagi menyamai.

Memang benar manusia itu bisa melihat dan Allah Maha Melihat. Namun penglihatan Allah sangat berbeda dari

penglihatan manusia dari bentuk, jenis dan kapasitasnya. Allah tidak memerlukan mata dan tidak memerlukan cahaya

untuk melihat. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi penglihatan Allah, bahkan jarak tidak pernah menjadi

masalah bagi penglihatan-Nya. Segala penglihatan dijangkau-Nya, namun tidak ada satu penglihatanpun yang mampu

menjangkau-Nya (QS 6: 103). Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kejadian yang sedang berlangsung saat ini

dimanapun, kejadian yang terjadi di masa lampau, dan yang bakal terjadi di masa mendatang semua dilihat-Nya dengan

penglihatan yang sempurna. Begitulah sekelumit tentang sifat Maha Melihat Allah. Hal yang sama berlaku bagi sifat-sifat

Allah yang lain. Berikutnya adalah tauhid dalam perbuatan. Alam semesta ini adalah karya cipta Allah, hasil dari

perbuatan Allah yang Maha Perkasa. Segala suatu kejadian yang terjadi di alam ini hanya bisa terjadi atas kehendak

Allah atau hakekatnya adalah perbuatan Allah. Apa saja yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi dan apa saja yang

tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. La haula wala quwwata illa billahii (Tidak ada daya untuk mengambil manfaat

dan tidak ada kekuatan untuk menolak madlarat kecuali daya dan kekuatan yang berasal dari Allah.) Namun demikian

Allah menetapkan mekanisme bagi manusia dapat mengambil manfaat dari daya dan kekuatan-Nya untuk kepentingan

mereka yakni melalui sunnatullah. Melalui sunnatullah ini perbuatan manusia akan sampai kepada tujuannya (sukses)

dan melalui sunnatullah pula manusia dapat mengalami kegagalan. Secara hakiki kesuksesan manusia itu karena peran

Allah (QS 4: 79). Namun secara hakiki pula kegagalan manusia itu disebabkan karena kesalahan mereka sendiri, karena

Allah telah menyediakan jalan menuju kesuksesan, mengapa dia menempuh jalan menuju kegagalan. Yang terakhir

adalah tauhid dalam ibadah. Allah menuntun kita untuk mempersembahkan shalat, ibadah, hidup dan mati kita hanya

untuk-Nya semata (QS 6: 162). Allah juga menuntut kita untuk beribadah hanya kepada Allah saja (QS 2: 83). Seluruh

aktifitas hidup manusia baik dalam bentuk ibadah maupun mu'amalah harus memiliki nilai penghambaan kepada Allah.

Syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji yang kita amalkan harus digerakkan dengan niat karena Allah, dan dilaksanakan

sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan Allah. Begitu pula dengan aktifitas sehari-hari kita baik dalam bentuk

makan, minum, berbicara, beramal, dan bertetangga harus ditata sesuai dengan aturan Allah. Semua menjadi bagian

dari menghambakan diri (beribadah) kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar